Sekwan Bone teriaki legislator DPRD di Jakarta, aksi ini menuai sorotan hingga muncul usulan penggantian jabatannya segera.
Kejadian memanas terjadi di DPRD Bone ketika Sekwan meneriaki salah satu legislator di Jakarta. Aksi ini memicu sorotan publik dan anggota dewan lainnya, hingga muncul usulan resmi untuk mengganti posisi Sekwan.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena memperlihatkan ketegangan internal lembaga legislatif yang biasanya tertutup dari publik. Kronologi Info Kejadian Jakarta, reaksi anggota dewan, dan langkah pemerintah daerah terkait insiden ini menjadi sorotan hangat yang wajib diketahui masyarakat.
Kronologi Insiden Sekwan Bone Di Jakarta
Pada Minggu, 15 Maret 2026, insiden memanas terjadi antara Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Bone, Faidah, dan seorang legislator bernama Adriani Alimuddin Page saat kunjungan kerja di Jakarta. Insiden itu terjadi di Hotel Novotel Jakarta saat rombongan DPRD Bone sedang melakukan kunjungan kerja dan menginap.
Awalnya, Adriani mengkritik kinerja Faidah melalui grup WhatsApp internal DPRD Bone terkait pencairan dana yang tidak selesai tepat waktu. Kritik tersebut memicu ketegangan antara keduanya, yang kemudian berlanjut saat bertemu langsung di hotel.
Ketika lift hotel terbuka dan mereka berada bersama sejumlah anggota DPRD, Adriani menegur gaya Sekwan yang dinilai kurang profesional. Sesaat setelah itu, di lobi hotel, Faidah tiba‑tiba berteriak keras kepada Adriani, menarik perhatian banyak orang yang berada di area tersebut.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026! Nonton Semua Pertandingan Tanpa Batas, lewat LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal. Ayo Download Sekarang!
Reaksi Langsung Di Lokasi
Saat Faidah berteriak di lobi hotel, suasana menjadi tegang dan membuat kerumunan anggota DPRD lainnya menarik perhatian. Teriakan itu berupa tantangan langsung yang menantang Adriani, yang menurut Adriani terdengar seperti hinaan yang tidak pantas di depan umum.
Adriani sempat mengejar Sekwan karena emosinya terpancing oleh ujaran tersebut, namun upaya itu berhasil dilerai oleh anggota lainnya. Kejadian ini kemudian menciptakan suasana tidak nyaman di antara rombongan kunjungan kerja tersebut.
Selepas peristiwa itu, Adriani mencoba menghubungi Faidah melalui telepon dan pesan untuk menyelesaikan persoalan secara baik‑baik, namun tidak mendapat respons. Hal ini turut memperburuk hubungan antar keduanya.
Baca Juga: Heboh! Baznas DKI Sulap 663 Rumah Kumuh Jadi Layak Huni di Jakarta!
Kontroversi Etika Dan Kinerja
Adriani menegaskan bahwa semua ini bukan terkait persoalan anggaran seperti yang disebut beberapa pihak, melainkan masalah etika dan kinerja Faidah sebagai Sekretaris Dewan. Ia menyebut Faidah tidak memahami tugas pokok dan fungsi (tupoksi) sebagai Sekwan.
Menurut Adriani, Sekwan bahkan pernah bersikap sepihak terhadap anggota DPRD dengan ancaman menolak menandatangani SPPD anggota. Sikap itu kemudian disebut sebagai salah satu contoh perilaku yang tidak sesuai dengan tanggung jawab Sekretariat DPRD.
Adriani juga menyebut bahwa Faidah sering membuang muka ketika bertemu dengannya, serta menunjukkan sikap yang tidak profesional yang seharusnya tidak muncul dalam interaksi antara Sekwan dan legislator.
Usulan Pemberhentian Sekwan Dan Kabag Umum
Insiden itu memicu reaksi serius di internal DPRD Bone. Pimpinan DPRD bersama pimpinan fraksi dan Alat Kelengkapan Dewan (AKD) sepakat mengusulkan pemberhentian Sekwan Faidah serta Kepala Bagian Umum Sekretariat DPRD Bone, Lis Amalia Nurman.
Keputusan ini diambil setelah rapat konsultasi pimpinan dan fraksi, yang menilai bahwa kejadian tersebut mencerminkan masalah yang lebih luas terkait kinerja dan etika pejabat di lingkungan sekretariat DPRD. Usulan pemberhentian kemudian resmi diajukan sebagai langkah untuk memperbaiki citra dan fungsi sekretariat.
Langkah ini mendapat dukungan dari sejumlah legislator yang merasa insiden di luar etika institusi legislatif. Sehingga perlu tindakan tegas untuk menjaga marwah DPRD Bone.
Implikasi Dan Respons Publik
Peristiwa ini langsung menjadi buah bibir di internal DPRD dan juga di kalangan publik, terutama di Bone. Banyak pihak mempertanyakan profesionalitas pejabat di lembaga legislatif, terutama terkait sikap dan etika saat menghadapi kritik dari anggota dewan.
Beberapa pengamat politik lokal menyatakan bahwa insiden ini menunjukkan pentingnya pelatihan etika dan tata kelola internal bagi pejabat DPRD agar kejadian serupa tidak terulang. Etika dalam interaksi lembaga sangat krusial untuk menjaga kehormatan institusi.
Sementara itu, proses usulan pemberhentian Sekwan dan Kabag Umum kini menunggu tindak lanjut dari otoritas terkait, termasuk evaluasi formal. Dan keputusan eksekutif yang akan menentukan nasib kedua pejabat tersebut.
Dapatkan update terkini, berita terpercaya, dan informasi pilihan tentang Jakarta kami hadirkan setiap hari spesial untuk Anda, hanya di sini Info Kejadian Jakarta.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari makassar.tribunnews.com