Posted in

Terungkap! Fakta Anak Ketiga Bunuh Ibu dan Kakak-Adiknya Pakai Racun Tikus

Kasus tragis anak ketiga yang membunuh ibu dan kakak-adiknya menggunakan racun tikus mengungkap fakta mengejutkan dan motif tersembunyi.

Anak Ketiga Bunuh Ibu dan Kakak-Adiknya Pakai Racun Tikus

Publik diguncang oleh kasus pembunuhan tragis yang melibatkan satu keluarga inti. Seorang anak ketiga tega menghabisi nyawa ibu kandung serta dua kakak-adiknya sendiri dengan cara yang tak terduga, yakni menggunakan racun tikus. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan duka mendalam, tetapi juga memunculkan banyak pertanyaan tentang motif dan kondisi kejiwaan pelaku.

Simak kejadain di Jakarta terbaru yang akan di bahas di bawah ini yang hanya ada di Info Kejadian Jakarta.

Kronologi Kejadian Tragis

Peristiwa pembunuhan ini bermula ketika ibu dan dua anaknya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di dalam rumah. Awalnya, keluarga tersebut diduga meninggal akibat keracunan makanan biasa. Namun kecurigaan muncul setelah ditemukan sisa zat berbahaya yang tidak lazim dikonsumsi manusia.

Hasil penyelidikan awal menunjukkan bahwa racun tikus telah dicampurkan ke dalam makanan yang dikonsumsi korban. Racun tersebut bekerja secara perlahan, membuat korban mengalami gejala keracunan sebelum akhirnya meninggal dunia. Pelaku yang tinggal serumah sempat berpura-pura panik dan ikut menangis saat kejadian terungkap.

Kecurigaan aparat semakin menguat setelah ditemukan kejanggalan dalam keterangan anak ketiga. Dari hasil pemeriksaan intensif, pelaku akhirnya mengakui perbuatannya dan menjelaskan bagaimana racun tikus tersebut disiapkan serta diberikan kepada korban.

Profil Pelaku Anak Ketiga

Pelaku diketahui merupakan anak ketiga dalam keluarga tersebut, dengan usia yang masih tergolong muda. Di mata tetangga, pelaku dikenal pendiam, jarang bergaul, dan lebih sering menghabiskan waktu di dalam rumah. Tidak banyak yang menyangka ia menyimpan amarah dan tekanan batin yang mendalam.

Menurut keterangan aparat, pelaku memiliki riwayat masalah emosional dan kerap merasa terabaikan dalam keluarga. Ia mengaku sering dibanding-bandingkan dengan kakak-kakaknya dan merasa tidak pernah mendapat perhatian yang cukup dari sang ibu.

Perasaan tertekan yang terus dipendam tersebut diduga berkembang menjadi kebencian. Tanpa penanganan psikologis yang memadai, emosi negatif itu akhirnya meledak dalam bentuk tindakan kriminal yang sangat keji dan merenggut nyawa orang-orang terdekatnya.

Baca Juga: Integrasi LRT–Manggarai Tekan Emisi CO₂ Hingga 2,9 Juta Ton

Motif di Balik Pembunuhan

Motif di Balik Pembunuhan

Motif pembunuhan ini tidak semata-mata dilatarbelakangi oleh satu faktor tunggal. Dari hasil pemeriksaan, pelaku mengaku menyimpan rasa sakit hati bertahun-tahun akibat perlakuan keluarga yang ia anggap tidak adil. Ia merasa selalu disalahkan dan tidak pernah didengarkan.

Selain faktor emosional, pelaku juga disebut mengalami tekanan mental yang berat. Beberapa saksi menyebutkan bahwa pelaku sering menunjukkan tanda-tanda depresi, seperti menarik diri dari lingkungan dan sulit mengendalikan emosi.

Gabungan antara tekanan psikologis, rasa cemburu, dan kurangnya komunikasi dalam keluarga diduga menjadi pemicu utama tragedi ini. Tanpa adanya ruang dialog dan bantuan profesional, konflik batin tersebut berubah menjadi tindakan fatal.

Racun Tikus Sebagai Alat Kejahatan

Penggunaan racun tikus sebagai alat pembunuhan menjadi salah satu aspek paling mengejutkan dalam kasus ini. Racun tersebut mudah diperoleh dan sering digunakan untuk membasmi hama, namun sangat berbahaya jika dikonsumsi manusia.

Pelaku memanfaatkan sifat racun tikus yang tidak berbau dan mudah dicampurkan ke dalam makanan atau minuman. Dengan cara ini, korban tidak menyadari bahaya yang mengintai hingga racun mulai bereaksi di dalam tubuh.

Aparat menegaskan bahwa penggunaan bahan berbahaya seperti racun tikus menunjukkan adanya unsur kesengajaan yang kuat. Hal ini memperberat jeratan hukum terhadap pelaku karena dilakukan dengan perencanaan, bukan secara spontan.

Proses Hukum Dan Dampak Sosial

Pelaku kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Ia dijerat dengan pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman maksimal sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Kasus ini juga meninggalkan dampak sosial yang mendalam. Lingkungan sekitar mengalami trauma dan ketakutan, terutama karena pelaku dan korban merupakan satu keluarga. Banyak warga mengaku tidak menyangka tragedi sekeji ini terjadi di lingkungan mereka.

Tragedi ini menjadi pengingat penting akan pentingnya kesehatan mental, komunikasi keluarga, dan deteksi dini terhadap gangguan emosional. Tanpa perhatian serius terhadap aspek tersebut, konflik kecil dapat berkembang menjadi bencana yang merenggut nyawa.

Simak berita update lainnya tentang Jakarta dan sekitarnya secara lengkap tentunya terpercaya hanya di Info Kejadian Jakarta.


Sumber Informasi Gambar:

  1. Gambar Pertama dari detikNews
  2. Gambar Kedua dari detikNews