Posted in

Rano Karno Blak-Blakan: Atasi Macet Jakarta Nggak Instan, Lihat Saja Bangkok!

Rano Karno Sebut Atasi Macet Jakarta membutuhkan waktu, belajar dari Bangkok yang memerlukan empat tahun untuk mengatasinya.

Rano Karno Blak-Blakan: Atasi Macet Jakarta Nggak Instan, Lihat Saja Bangkok!

Wakil Gubernur DKI Jakarta ini menekankan bahwa ketidakseimbangan antara pertumbuhan kendaraan dan ruas jalan menjadi penyebab utama kemacetan. Untuk mengatasinya, Pemprov DKI Jakarta telah menerapkan Intelligent Traffic Control System (ITCS) berbasis AI di 65 dari 321 persimpangan, yang terbukti mengurangi waktu tunggu kendaraan hingga 15-20 persen.

Namun, Rano Karno menegaskan bahwa kunci utama penanganan kemacetan adalah kolaborasi semua pihak. Dibawah ini anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran Info Kejadian Jakarta.

Strategi Jangka Panjang Belajar dari Bangkok

Rano Karno menyoroti pengalaman Bangkok yang berhasil mengatasi kemacetan dengan membangun infrastruktur jalan bertingkat, yang dikenal sebagai triple deck. Meskipun pembangunan triple deck ini membutuhkan waktu hampir empat tahun, seperti yang terjadi di Bangkok, Rano Karno mengakui bahwa penerapan sistem serupa di Jakarta akan menjadi “revolusi yang luar biasa” dan kemungkinan besar akan menyebabkan kemacetan total sementara waktu.

Bangkok sendiri sempat mengalami situasi kemacetan yang serupa dengan Jakarta sebelum mengimplementasikan solusi infrastruktur tersebut. Contoh Bangkok memberikan pelajaran penting tentang perlunya komitmen jangka panjang dan investasi besar dalam infrastruktur untuk mengatasi kemacetan secara efektif.

Selain itu, Bangkok juga telah mengintegrasikan transportasi publik seperti Skytrain (monorel) dan MRT sejak tahun 1999 dan 2004. Yang membantu mengurangi jumlah pengendara motor dan meningkatkan disiplin warga dalam menggunakan angkutan umum.

Inovasi Teknologi dan Kolaborasi Sebagai Solusi Jakarta

Dalam upaya mengatasi kemacetan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai mengandalkan teknologi melalui penerapan Intelligent Traffic Control System (ITCS) berbasis kecerdasan buatan (AI). Sistem ini telah dipasang di 65 dari 321 persimpangan di Jakarta dan terbukti mampu menurunkan waktu tunggu kendaraan hingga 15-20 persen.

ITCS ini juga terhubung dengan program Mandala Quick Response, yang digagas bersama Polda Metro Jaya. Memungkinkan pemantauan lalu lintas secara real-time melalui Geographic Information System (GIS) dan integrasi CCTV Dishub. Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Komarudin menjelaskan bahwa sistem Mandala memanfaatkan 4.438 kamera CCTV untuk memantau dan mengurai kepadatan lalu lintas.

Keberadaan sistem ini mempercepat penguraian kemacetan, seperti di kawasan Sudirman-Thamrin yang kini bisa longgar 30 menit hingga 1 jam lebih cepat. Namun, Rano Karno menekankan bahwa kunci penanganan kemacetan tetap pada kolaborasi antara Pemprov DKI, pemerintah pusat, kepolisian, TNI, dan masyarakat.

Baca Juga: Konsorsium Turki Tertarik Investasi Besar Pembangunan Rumah Sakit di Jakarta

Akar Masalah Ketidakseimbangan dan Kurangnya Transportasi Publik

Akar Masalah Ketidakseimbangan dan Kurangnya Transportasi Publik

Salah satu akar masalah utama kemacetan di Jakarta adalah ketidakseimbangan antara pertumbuhan kendaraan dan ruas jalan. Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Komarudin mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2024. Pertumbuhan kendaraan di Jakarta mencapai 850.901 unit, atau sekitar 2.500–3.000 kendaraan baru per hari.

Jika hanya satu persen dari jumlah tersebut adalah mobil, maka dibutuhkan 16 kilometer ruang untuk memarkir kendaraan baru tersebut. Data dari Polda Metro Jaya menunjukkan pertumbuhan kendaraan di Jakarta rata-rata mencapai 2,7 persen per tahun, sementara pertumbuhan ruas jalan hanya 0,01 persen. Selain itu, rendahnya penggunaan transportasi umum juga menjadi faktor signifikan.

Dari total 20,2 juta perjalanan per hari di Jakarta, hanya sekitar 22,19 persen yang menggunakan angkutan umum. Kondisi ini menyebabkan kendaraan pribadi menjadi penyumbang utama polusi udara. Untuk mengurangi beban jalan, Rano Karno menekankan pentingnya peralihan moda transportasi menuju angkutan umum, termasuk melalui program Transjabodetabek.

Langkah Komprehensif dan Harapan Masa Depan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memaparkan delapan langkah strategis untuk menanggulangi kemacetan. Termasuk kampanye penggunaan transportasi umum, program Rabu Angkutan Umum, edukasi ke sekolah-sekolah, pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD). Penyediaan sarana transportasi umum dan park & ride, penerapan sistem ganjil-genap, dan penggunaan Sistem Lalu Lintas Cerdas (ITS).

Rano Karno juga menegaskan bahwa penanganan kemacetan bukan hanya urusan teknis lalu lintas, tetapi juga bagian dari strategi Jakarta menuju kota global. Kehadiran MRT sebagai salah satu keunggulan transportasi publik di Jakarta juga menjadi harapan untuk mengurangi kemacetan.

Upaya peningkatan cakupan pelayanan transportasi publik di Jakarta telah meningkat hampir dua kali lipat dalam lima tahun terakhir. Dari 42 persen menjadi 82 persen pada tahun 2021, menunjukkan kemajuan yang positif. Melalui sinergi mendalam antara Pemprov DKI Jakarta, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah di kawasan Jabodetabek. Serta peran aktif masyarakat, diharapkan Jakarta dapat mengatasi masalah kemacetan ini seiring waktu.

Kesimpulan

Mengatasi kemacetan di Jakarta adalah proyek jangka panjang yang membutuhkan pendekatan multi-sektoral dan kolaborasi kuat antara pemerintah dan masyarakat. Meskipun tantangan besar masih membayangi, adopsi teknologi seperti ITCS. Pengembangan infrastruktur transportasi publik, dan upaya konsisten dalam mendorong peralihan moda transportasi ke angkutan umum menunjukkan komitmen yang kuat dari Pemprov DKI Jakarta.

Dengan belajar dari pengalaman kota lain seperti Bangkok dan terus berinovasi, diharapkan Jakarta dapat secara bertahap mengurangi kemacetan dan menciptakan mobilitas yang lebih baik bagi warganya. Simak dan ikuti terus jangan sampai ketinggalan informasi terlengkap tentang Rano Karno Atasi Macet Jakarta hanya di INFO KEJADIAN JAKARTA.


Sumber Informasi Gambar:

  1. Gambar Pertama dari news.detik.com
  2. Gambar Kedua dari www.metrotvnews.com